03/04/2025

adminv1

Model Tumpangsari Karet

Penurunan harga karet menjadi masalah serius bagi kondisi ekonomi rumah tangga petani karet, antara lain: 1) pendapatan petani per bulan menurun, 2) daya beli petani menurun, 3) kemampuan investasi  petani menurun, 4) petani menghentikan usahatani karet dan beralih profesi, dan 5) mengkonversi karet ke komoditas lain yang  lebih  prospektif. 

Model tumpangsari karet secara partisipatif dengan tanaman ekonomis lainnya secara berkelanjutan merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh petani agar dapat bertahan dalam kondisi harga karet rendah saat ini. Model tumpangsari karet secara partisipatif merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas usahatani karet rakyat melalui inisiasi dan partisipasi petani serta layak secara finansial. Model ini dapat meningkatkan pendapatan petani, produktivitas lahan dan dan produktivitas karet. 

Kendala teknis pengembangan model ini adalah naungan tajuk tanaman karet sehingga tidak dapat berkelanjutan dan produktivitas tanaman sela menurun. Diperlukan modifikasi jarak tanam karet melalui jarak tanam ganda sehingga dapat mengembangkan model ini dalam jangka panjang. Kendala sosial dan ekonomi dapat diatasi melalui model tumpangsari karet partisipatif dan didukung oleh kebijakan pemerintah dan kelembagaan partisipatif yang kuat. Tantangan pengembangan model ini pada skala yang lebih luas antara lain: sikap mental ketergantungan petani pada bantuan pemerintah; lemahnya koordinasi antarinstansi pemerintah dan nonpemerintah; dan tidak terjaminnya kontinuitas anggaran merupakan tantangan yang dapat mengganggu upaya mobilisasi partisipasi petani dan masyarakat untuk menjalankan program secara komprehensif. Selain itu, tantangan yang harus dihadapi untuk memperlancar pelaksanaan program model ini antara lain meningkatkan peran pemerintah, penyuluh, menyederhanakan birokrasi administrasi, dan mendapatkan komitmen yang kuat dari pimpinan eksekutif dan legislatif  di daerah secara menyeluruh dan konsisten yang didukung oleh lembaga penelitian, penyuluh pertanian, dan lembaga keuangan daerah. 

Perspektif kebijakan pemerintah diperlukan untuk mendukung dan penyangga harga karet dan tanaman ekonomis lainnya di tingkat usahatani melalui penguatan kelembagaan ekonomi seperti lembaga pengolahan hasil, penyimpanan, dan pemasaran. Diperlukan juga dukungan bimbingan teknis dan pendampingan manajemen model usahatani ini untuk mempercepat adopsi teknologi. Secara sosial diperlukan diseminasi teknologi untuk mengetahui tingkat adaptasi teknologi di tingkat petani sehingga mempermudah petani dalam melaksanakan sistem usahataninya.

Pola Tumpangsari Karet Dengan Ternak dan Tanaman Ekonomis Lainnya Melalui Modifikasi Jarak Tanam Karet Untuk Tumpang Sari Jangka Panjang

Konsep Replanting Model Tumpangsari Karet Melalui Modifikasi Jarak Tanam Karet Untuk Tumpang Sari Jangka Panjang

Keterangan : Populasi Tanaman Karet 435 pohon / ha

(Sahuri – Kelti Agronomi Pusat Penelitian Karet)


Teknologi Aspal Karet

Sejak akhir 2011 hingga saat ini harga komoditas karet alam anjlok di pasar global. Harga karet hanya mampu bergerak pada kisaran USD 1 – 1,5 per kg karet kering. Pemerintah berinisiatif meningkatkan konsumsi karet alam domestik dengan target 100 ribu ton per tahun melalui penerapan teknologi aspal karet untuk mendukung pembangunan infrastruktur transportasi. 

Teknologi aspal karet berdasarkan jenis bahan bakunya dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:

  1. Aspal karet berbasis lateks (lateks pravulkanisasi)
  2. Aspal karet berbasis karet padat (kompon karet padat)
  3. Aspal karet berbasis serbuk karet (campuran kompon karet padat dan serbuk ban bekas) 

PENGUJIAN TEKNOLOGI

Penelitian dan uji gelar aspal karet telah dilaksanakan sejak akhir tahun 2016 oleh Pusat Penelitian Karet (PPK) bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan. Melalui pendanaan program ‘Insentif Inovasi Teknologi yang Dimanfaatkan di Industri’ dari Kementerian Ristekdikti tahun 2017 dan 2018 telah dibangun pengembangan fasilitas pengolahan lateks pravulkansasi sebagai aditif aspal hingga skala pilot project. Dukungan lain juga datang dari Kementerian Perindustrian pada tahun 2017 dengan memberikan hibah berupa mesin pengolahan aditif aspal berbasis karet padat (kompon/ masterbatch dan Serbuk Karet Alam Teraktivasi/SKAT). 

Aspal karet berbasis lateks (lateks pravulkanisasi)

Teknologi aspal karet yang paling siap untuk dikembangkan adalah aspal karet berbasis lateks pravulkanisasi. Lateks pravulkanisasi merupakan lateks pekat yang telah diolah secara kimiawi sehingga lebih tahan panas dan oksidasi. Aspal karet dengan penambahan lateks pravulkanisasi relatif lebih cepat dan mudah diproses. Aspal karet berbasis lateks pravulkanisasi telah diujicoba di Kawasan Danau Lido Bogor pada tahun 2016 sepanjang 2 km.  Teknologi ini sudah diterapkan oleh Direktorat Jenderal Binamarga Kementerian PUPR di Jalan Nasional Lintas Tengah Sumatera di Kabupaten Empat Lawang, Sumatra Selatan sepanjang 4,3 mm pada tahun 2018. Hasil analisis laboratorium maupun lapangan menunjukkan bahwa aspal karet berbasis lateks pravulkanisasi memiliki ketahanan terhadap kedalaman alur yang lebih baik, ketahanan terhadap retak dan stabilitas yang lebih baik. Konsumsi karet yang digunakan sebanyak 2-3 ton per km jalan. Kesiapan penerapan aspal karet berbasis lateks pravulkanisasi juga dinilai karena adanya dukungan dari pihak industri. Di Indonesia, terdapat lebih dari 2 industri besar yang memiliki fasilitas mixer aspal karet.

Aspal karet berbasis karet padat (kompon karet padat)

Teknologi ini pada prinsipnya sama dengan aspal karet berbasis lateks yaitu dengan melarutkan karet ke dalam aspal namun berbeda jenis bahan bakunya. Karet dibuat dalam bentuk kompon terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pelarutan kompon karet ke dalam aspal. Bahan baku yang digunakan dalam teknologi ini adalah karet padat jenis brown crepe/RSS/SIR 20. Brown crepe dan RSS dapat dibuat di tingkat petani karet dengan memanfaatkan bokar rakyat yang telah dibersihkan, digiling, dan dikeringkan. Seperti halnya dengan memproduksi lateks pekat, insentif tambahan juga akan diperoleh petani jika dapat memproduksi brown crepe. Teknologi aspal karet berbasis karet padat telah diujicoba pada tahun 2017 di Jalan Raya Ciputat – Parung sepanjang 600 m. Penerapan teknologi ini masih menunggu kesiapan pabrik aspal karet karena membutuhkan peralatan yang lebih banyak daripada aspal karet berbasis lateks.  

Aspal karet berbasis serbuk karet (campuran kompon karet padat dan serbuk ban bekas) 

Jenis bahan aditif lain yang dapat ditambahkan dalam pembuatan aspal karet adalah Serbuk Karet Alam Teraktivasi (SKAT). SKAT merupakan campuran karet alam segar jenis mutu brown crepe/RSS/SIR 20 dengan serbuk karet yang berasal dari limbah ban bekas serta bahan kimia aditif. Aplikasi SKAT dengan cara dicampurkan dengan batuan agregat dan aspal ketika pembuatan hotmix di AMP (Asphalt Mixing Plant). Industri pembuatan serbuk ban sebagai bahan baku SKAT ini masih terbatas dan berlokasi di pulau Jawa sehingga penerapan teknologi masih pada skala yang terbatas. Teknologi aspal karet berbasis serbuk karet telah diujicoba pada tahun 2017 di Jalan Pantura di Kawasan Karawang sepanjang 500 m.

POTENSI PENYERAPAN KARET DAN PENDAPATAN PETANI

Mengacu pada kajian yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Karet, teknologi aspal karet berpotensi menyerap karet alam sebanyak 80 ribu hingga 112 ribu karet alam per tahun dengan asumsi dosis karet alam sebesar 5-7% terhadap konsumsi aspal dalam negeri yaitu sekitar 1,6 juta ton per tahun. 

Saat ini bahan baku lateks pekat untuk pengolahan lateks pravulkanisasi masih dipasok dari Perkebunan Besar Negara (BUMN Perkebunan) dan swasta. Untuk mendapatkan pasokan lateks dari petani karet diperlukan perubahan budaya mereka dalam mengolah hasil panen kebunnya dari berbentuk karet gumpalan menjadi lateks kebun dengan cara segera menambahkan bahan pengawet ke dalam lateks hasil panen kemudian memekatkannya dengan cara pendadihan maupun dengan mesin. 

Pendapatan petani karet juga jauh lebih baik jika dapat memproduksi lateks pekat. Sebagai ilustrasi sederhana, karet gumpalan berkadar 60% karet berharga IDR 6.000 – 7.000 per kg basah, sedangkan lateks pekat pada kadar yang sama yaitu 60% dapat dihargai sebesar IDR 12.000 – 14.000 per kg basah. Faktor yang tidak kalah penting adalah adanya jaminan pasar atau pembeli atas produksi lateks pekat petani karet. Lebih lanjut teknologi ini oleh PPK, Pemda Musi Banyuasin, Sumsel dan PT. Jaya Trade Indonesia telah bekerjasama dan akan menerapkannya dalam proyek pengaspalan jalan aspal karet di Kabupaten Musi Banyuasin

Dari segi harga, meskipun dijual pada level lebih tinggi 20-30%, namun berdasarkan studi skala laboratorium aspal karet diprediksi mampu memberikan umur layanan yang 1,5 hingga 2 kali lebih panjang dibandingkan dengan aspal konvensional. Dengan demikian, penggunaan aspal karet justru akan menghemat biaya pemeliharaan dan perbaikan jalan yang seringkali sama mahalnya dengan biaya pembuatan jalan baru. 

Tumbuhnya industri aspal karet yang memanfaatkan karet rakyat tentu sangat bergantung pada goodwill dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk mengimplementasikan kebijakan yang telah dikeluarkan. Standar aspal karet telah diterbitkan oleh Kementerian PUPR, dan Surat Edaran bagi Pemerintah Daerah di Jawa, Sumatera dan Kalimantan tentang Penerapan Aspal Karet telah diterbitkan oleh Kementerian Dalam Negeri. Adanya kepastian dalam implementasi aspal karet ke dalam program infrastruktur jalan pada skala nasional akan mendorong peningkatan konsumsi karet dalam negeri. Pusat Penelitian Karet beserta industri aspal swasta siap bersama-sama mendukung dengan terjun ke dalam bisnis aspal karet dalam volume yang lebih besar lagi. 

Henry Prastanto, ST, M.Eng – Peneliti Teknologi Pasca Panen – Balai Penelitian Teknologi Karet, Pusat Penelitian Karet



Penandatanganan Piagam Kerjasama Antara Pusat Penelitian Karet dan Politeknik Negeri Sriwijaya

Sembawa -- Pusat Penelitian Karet dan Politeknik Negeri Sriwijaya melakukan penandatanganan Piagam Kerjasama dalam hal penyelenggaraan Kerja Praktek atau Program Magang Mahasiswa dan Dosen Politeknik Negeri Sriwijaya serta peningkatan sumber daya manusia pendidikan. Penandatanganan Piagam Kerjasama pada tanggal 8 Juli 2020 ini dilakukan secara langsung oleh Kepala Pusat Penelitian Karet, Dr. Edy Suprianto dengan Direktur Politeknik Negeri Sriwjaya, Dr. Dipl. Ing. Ahmad Taqwa, MT. Dalam acara penandatanganan ini dari Politeknik Negeri Sriwijaya hadir juga Pembantu Direktur Drs. Zakaria, MPd; Koordinator Kampus Banyuasin Ir.H. Zulkarnain; dan Wakil Koordinator Ir. Iskandar, SP, MM.

Penyakit Gugur Daun Pestalotiopsis (PGDP)

Deskripsi dan Gejala

Penyakit gugur daun pestalotiopsis (PGDP)  pertama kali terdeteksi di Indonesia tahun 2016 di wilayah sumatera utara, kemudian menyebar ke Sumatera Selatan akhir tahun 2017 dan terus menjadi outbreak sampai saat ini. Penyakit  gugur daun  ini merupakan penyakit tular udara yang penyebarannya sangat cepat, lebih banyak menyerang daun yang tua, menyerang semua klon dan juga menyerang semua umur tanaman.

Sebaran Penyakit

Data Dirjebun tahun 2019, luas serangan penyakit ini di Indonesia mencapai 382.000 hektar dengan wilayah   Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Babel, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalsel, Kalbar dan  Sulteng.  

Penyebab Penyakit

Penyakit gugur daun ini disebabkan oleh Pestalotiopsis sp (Pseudopestalotiopsis coccos, Pestalotiopsis microspora dan  Neopestalotiopsis cubana ).

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit

Kelembaban nisbi udara dan curah hujan yang tinggi membantu timbul dan berkembangnya PGDP. Kondisi tanaman yang lemah, kekurangan nutrisi, sistem ekploitasi yang berat dan pengendalian penyakit sebelumnya yang tidak tuntas yang menyebabkan penyakit ini semakin parah. 

Arti Ekonomi

Kerugian yang terjadi akibat penyakit ini yaitu turunnya produksi mencapai lebih dari 25 %-30%. Berdasarkan data Pusat Penelitian Karet Sembawa, penurunan produksi pada bulai Mei 2018 sekitar 27 %, bulan Juni turun 45,8% dibanding tahun 2017.  

Pengendalian Penyakit

Pengendalian gugur daun Pestalotiopsis ini sebaiknya  diusahakan melalui beberapa pendekatan, antara lain :

  1. Memelihara tanaman dengan baik. Tanaman di pupuk secara teratur menurut dosis dan ekstra 25 % N dan K.  
  2. Memperhatikan beban penyadapan sesuai dengan kemampuan klon.
  3. Melindungi tanaman dengan fungisida sistemik, cara aplikasi fungisida  bisa dengan cara fogging/pengabutan atau spraying/semprot ke bagian tajuk tanaman. 

(Kelti Proteksi Tanaman, Juni 2020)

 


Riko Cahya Putra, SP


Riko Cahya Putra, SP

Peneliti Tanah dan Pemupukan

Pendidikan

  • S1 - 2013 - Ilmu Tanah, Universitas Gadjah Mada

Minat Riset

  • Kesuburan Tanah
  • Pemupukan Tanaman
  • Kesesuaian Lahan

Biografi Singkat

Riko memperoleh gelara akademik Sarjana Pertanian di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 mulai berkerja di Pusat Penelitian Karet sebagai calon peneliti bidang tanah dan pemupukan. Tahun 2017 mengikuti Diklat fungsional peneliti yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Bogor. Jabatan Fungsional Peneliti Ahli Pertama diperoleh pada bulan Maret tahun 2018. Riko terlibat pada beberapa kegiatan-kegiatan penelitian yang berhubungan dengan kesuburan tanah dan pemupukan tanaman. Selain penelitian sejak tahun 2014 juga terlibat pada kegiatan-kegiatan pelayanan seperti rekomendasi pemupukan tanaman dan evaluasi kelas kesesuaian lahan di perkebuanan besar negara maupun swasta. Riko juga terlibat dalam kegiatan pengujian efektivitas pupuk untuk pengajuan ijin edar maupun skala demplot. Universitas Gadjah Mada, Ilmu Tanah (2008-2013)

Kunjungan Kerja DPRD Provinsi Jambi

Komisi II DPRD Provinsi Jambi melakukan Kunjungan Kerja dalam rangka Studi Banding ke Pusat Penelitian Karet Sembawa hari Selasa tanggal 16 Juni 2020. Kegiatan studi banding kali ini dipimpin langsung oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Pinto Jayanegara, S.Psi, M.Si, BA dan Rocky Candra, SE. Hadir juga dalam kunjungan ini Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi H. Agus Rizal. Kunjungan kerja ini diterima secara langsung oleh Direktur Pusat Penelitian Karet, Dr. Edy Suprianto.

Rubber Notes Series

Rubber Notes Series memuat kajian singkat para peneliti Pusat Penelitian Karet terkait dengan inovasi dan teknologi perkaretan terkini.


Penyakit gugur daun Pestalotiopsis

Teknologi Aspal Karet

Model Tumpangsari Karet

Dinamika Iklim Dan Produksi Karet

Mengawal Potensi Produksi Klon Karet Unggul Melalui Pemurnian Klon

Produk-Produk Industri Kesehatan Berbasis Karet Alam

PROGRAM BINA KARET RAKYAT (BIKARA)

Pemupukan Tanaman Karet

Penggunaan Rainguar
Penggunaan Rainguard Sebagai Upaya Antisipasi Fenomena Anomali Iklim LA-NINA Pada Perkebunan Karet

Estimasi Kandungan Hara Nitrogen Perkebunan Karet Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh

Rubber Downstream Sector Goes To Green

Reduksi Emisi CO2 Dari Implikasi Teknologi Sekat Kanal Berbasis Komposit Karet Alam Di Lahan Gambut

TIPS AGAR PENYADAPAN DOUBLE CUT PADA KLON KARET METABOLISME RENDAH LEBIH OPTIMAL

Penyakit Daun Tanaman Karet

Strategi Untuk Mengatasi Dampak Sosial Ekonomi Dari Harga Karet Yang Rendah

Pengaruh Kondisi Perdaunan Terhadap Hasil Lateks Pada Tanaman Karet

Seleksi Toleransi Kekeringan Bibit Karet GT1 Dengan Penambahan Polietilen Glikol (PEG) 6000

SERI DISKUSI TEKNIS KARET ‘”Pestalotiopsis Kembali Mengancam Produksi Karet Nasional”

Pusat Penelitian Karet telah menyelenggarakan Webinar Seri Diskusi Teknis Karet dengan tema ‘‘Pestalotiopsis Kembali Mengancam Produksi Karet Nasional’ pada 18 Mei 2020. Seri Diskusi Teknis ini mengundang 3 (tiga) narasumber yakni: 1) Ardi Praptono, S.P., M.Agr. Direktur Perlindungan Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan; 2) Dr Tri Rappani Febbiyanti Kepala Kelompok Peneliti Proteksi Tanaman Pusat Penelitian Karet; dan 3) Rudi Arianto, S.P Asisten Kepala Kebun Bandar Betsy PTPN III.  Materi yang disampaikan antara lain: Kebijakan dan Program Pemerintah dalam Pengendalian Penyakit Gugur Daun di Perkebunan Rakyat, Epidemi dan Pengendalian Penyakit Gugur Daun Pestalotiopsis pada Tanaman Karet, dan Strategi dan Pengalaman Pengendalian Gugur Daun Pestalotiopsis di PT Perkebunan Nusantara III. Webinar ini diikuti oleh 77 peserta aktif dari berbagai kalangan dan dimoderatori oleh Dr Radite Tristama (Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian Karet). Pada akhir webinar, Direktur Riset dan Pengembangan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Dr Gede Wibawa, menyampaikan bahwa (1) Penyakit gugur daun Pestalotiopsis merupakan penyakit penting tanaman karet dan menjadi fokus utama riset dan pengembangan, baik oleh Puslit Karet maupun melalui kerja sama riset global dengan IRRDB, (2) Mengingatnya besarnya dampak penyakit gugur daun Pestalotiopsis terhadap produksi diperlukan fasilitasi pemerintah dalam upaya pengendalian melalui program-program dari Direktorat Perlidungan Perkebunan, dan (3) Puslit Karet masih sangat terbuka dan siap membantu dan bekerja sama dengan Ditjenbun dalam rangka monitoring penyakit gugur daun, dan (4) PT RPN melalui Puslit Karet juga masih terus mendampingi PTPN Group dalam kegiatan pengendalian penyakit gugur daun di kebun-kebun lingkup PTPN. Materi webinar dapat diunduh pada tautan dibawah ini dan rekaman webinar dapat diakses melalui Youtube https://www.youtube.com/watch?v=oLv1J7YsvGg.